Karya yang lebih menonjol dari Hegen adalah karya McCelland yang juga
memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan.
Menurutnya, karena semangat kewiraswastaan yang mendorong perkembangan ekonomi,
maka tugas teoritisi adalah menerangkan sebab-sebab kemunculan semangat itu.
David C. McClelland adalah Gubernur dalam Psikologi dan Ketua Departement of
social Relations Harvard University. Dalam studinya tentang motivasi manusia,
yang pertama-tama mendapat perhatian McClelland ialah untuk menentukan bahwa
ada kebutuhan untuk berhasil atau ada n Ach (n menuju pada jumlah atau derajat,
sedangkan Ach mengacu pada achievement, keberhasilan atau prestasi),
yang dapat dibedakan dari dibutukan dan
naluri lain, yang besarnya berbeda-beda pada setiap individu dan juga dalam
berbagai kebudayaan. Winterbottom, kemudian dapat menunjukan bahwa perkembangan
n Ach itu terjadi agak awal atau pada asa kanak-kanak, dan tergantung pada
harapan orang tua tentang “kemandirian” (self realiant masteri) bagi
usia anak-anak yang tepat yaitu delapan tahun.
Tesis dasar McClelland adalah bahwa “masyarakat tinggi tingkat kebutuhan
untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan wiraswastawan yang lebih
bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih
cepat”. McClelland menemukan sebuah
teknik proyektif guna mengukur motif orang untuk berprestasi. Pada dasarnya,
teknik ini mencoba memastikan sejauh mana pemikiran orang dapat berubah menjadi
ide-ide yang berorientasi pada prestasi.
Teknik proyektif yang dilukiskan di atas adalah bagian perkembangan awal
dari study mengenai kebutuhan untuk berprestasi. McClelland dkk melakukan tiga
jenis riset. Pertama, mereka mencoba menemukan tindakan kelopok untuk meneukan
ukuran kebutuhan untuk berprestasi dari kelompok. Kedua, mereka menemukan
ukuran individual dari motif, kepentingan, nilai-nilai, dan pelaksanaannya baik
oleh para ibu maupun oleh anak mereka di berbagai negara. Ketiga, meneliti
prilaku, termasuk motif kegiatan para pengusaha.
Jelaslah, McClelland dkk, mencoba mengenali faktor yang tak terbatas
hanya pada satu kebudayaan tertentu saja. Dalam kenyataannya, mereka
menunjukan, meskipun terdapat perbedaan kebudayaan dari bangsa-bangsa itu, juga
terdapat kesamaan mendasar dari rakyat diseua masyarakat itu yang bekerja keras
menurut ukuran tertentu tatkala tingkat motivasi untuk berprestasi mereka
tinggi.
McClelland
mengemukakan bahwa kesimpulan ini
konsisten, dan memberi pengertian yang lebih mendalam tentang teori klasik Max
Weber, dan menghubunbgkannya dengan etika protestan serta semangat kapitalisme,
karena “kemampuan berdiri diatas kaki sendiri” disertai penuh dengan keyakinan,
dapat diduga oleh orang tua mereka.menurut Weber, orang protestan bekerja lebih
keras dan lama, menabung untuk tujuaan masa depan, dan menyusul atau mendahului
orang lain untuk mencapai kesuksesan usaha.
Memalingkan pandangannya kepada masyarakat kontemporer, McClelland menemukan
korelasi yang ketat antara n Ach di satu pihak dan Pendapatan Nasional Kotor
(GNP), tenaga listrik, atau keduanya secara bersamaan di pihak lain. Motivasi
keberhasilan tanpa kekecualian terbukti berhubungan dengan perkembangan
ekonomi, baik di dunia dewasa ini maupun dalam sejarah, bahwa n Ach dapat
merangsang anak-anak, dan menjadi pengaruh atas pembangunan.
Akan tetapi, dalam waktu yang akan datang ini, “jangka pendek” menurut
para ahli ekonomi, negara-negara miskin agaknya harus puas dengan sumber
motivasi keberhasilan apapun yang telah dimiliki oleh penduduknya yang dewasa.
McClelland telah merinci beberapa saran yang langsung dapat diturunkan dari
kesimpulan-kesipulannya.
Pertama, “kepemipinan negara hendaknya mengembangkan mistik
keberhasilan dengan menggunakan setiap sarana yang ada padanya”.
Kedua, McClelland menganjurkan latihan motivasi untuk
pengusaha, dan mengemukakan suksesnya berbagai seminar latihan selama sepuluh
hari, yang dikembangkan di India untuk keperluan itu.
Ketiga, orang harus mendesak agar diadakan pendidikan
tinggi, baik untuk wanita maupun pria.
Motivasi
keberhasilan itu bukan konsep yang sederhana, akan tetapi mengandung banyak
konsep, dan hubungan yang satu dengan yang lain tidak jelas. Adapun ini dari
pemikiran McClelland yaitu: (1). ada semangat untuk berpikir rasional dan
bekerja keras diantara pribadi-pribadi untuk membuat sesuatu sempurna, sesuai
dengan posisi mereka di dunia seperti yang dikehendaki Tuhan (melanjutkan teori
Max Weber, tentang ‘Etika Protestan’), (2). Konsep ‘need for achievement’
adalah suatu ‘semangat baru yang sepurna’ dalam menghadapi pekerjaan, yang
kemudian mendorong kebutuhan untuk berprestasi. Dorongan untuk tidak sekedar
mendapatkan ibalan material, tetapi mencapai kepuasan batin, apabila telah
menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, (3). Kemiskinan dan keterbelakangan di
asyarakat Dunia Ketiga atau Negara Berkembang adalah akibat dilingkungan mereka
tidak terjangkit virus ‘need for achivement’ (n Ach), (4). Apabila dilingkungan
masyarakat terjangkit virus ‘n Ach’ maka dapat diharapkan masyarakat tersebut
akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, (5). Virus ‘need for
achievement’ beget panting traumata
unstuck dulia basins, air harus ditingkatkan nilainya sehingga semakin banyak
kelompok masyarakat usia muda yang memiliki dorongan jiwa ‘kewiraswastaan’atau
dikenal dengan ‘enterpernership’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar