Kamis, 17 Mei 2012

TENTANG KEPRIBADIAN KREATIF dan PRESTASI


Karya yang lebih menonjol dari Hegen adalah karya McCelland yang juga memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan. Menurutnya, karena semangat kewiraswastaan yang mendorong perkembangan ekonomi, maka tugas teoritisi adalah menerangkan sebab-sebab kemunculan semangat itu. David C. McClelland adalah Gubernur dalam Psikologi dan Ketua Departement of social Relations Harvard University. Dalam studinya tentang motivasi manusia, yang pertama-tama mendapat perhatian McClelland ialah untuk menentukan bahwa ada kebutuhan untuk berhasil atau ada n Ach (n menuju pada jumlah atau derajat, sedangkan Ach mengacu pada achievement, keberhasilan atau prestasi), yang  dapat dibedakan dari dibutukan dan naluri lain, yang besarnya berbeda-beda pada setiap individu dan juga dalam berbagai kebudayaan. Winterbottom, kemudian dapat menunjukan bahwa perkembangan n Ach itu terjadi agak awal atau pada asa kanak-kanak, dan tergantung pada harapan orang tua tentang “kemandirian” (self realiant masteri) bagi usia anak-anak yang tepat yaitu delapan tahun.
Tesis dasar McClelland adalah bahwa “masyarakat tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan wiraswastawan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat”.  McClelland menemukan sebuah teknik proyektif guna mengukur motif orang untuk berprestasi. Pada dasarnya, teknik ini mencoba memastikan sejauh mana pemikiran orang dapat berubah menjadi ide-ide yang berorientasi pada prestasi.
Teknik proyektif yang dilukiskan di atas adalah bagian perkembangan awal dari study mengenai kebutuhan untuk berprestasi. McClelland dkk melakukan tiga jenis riset. Pertama, mereka mencoba menemukan tindakan kelopok untuk meneukan ukuran kebutuhan untuk berprestasi dari kelompok. Kedua, mereka menemukan ukuran individual dari motif, kepentingan, nilai-nilai, dan pelaksanaannya baik oleh para ibu maupun oleh anak mereka di berbagai negara. Ketiga, meneliti prilaku, termasuk motif kegiatan para pengusaha.
Jelaslah, McClelland dkk, mencoba mengenali faktor yang tak terbatas hanya pada satu kebudayaan tertentu saja. Dalam kenyataannya, mereka menunjukan, meskipun terdapat perbedaan kebudayaan dari bangsa-bangsa itu, juga terdapat kesamaan mendasar dari rakyat diseua masyarakat itu yang bekerja keras menurut ukuran tertentu tatkala tingkat motivasi untuk berprestasi mereka tinggi.
McClelland mengemukakan  bahwa kesimpulan ini konsisten, dan memberi pengertian yang lebih mendalam tentang teori klasik Max Weber, dan menghubunbgkannya dengan etika protestan serta semangat kapitalisme, karena “kemampuan berdiri diatas kaki sendiri” disertai penuh dengan keyakinan, dapat diduga oleh orang tua mereka.menurut Weber, orang protestan bekerja lebih keras dan lama, menabung untuk tujuaan masa depan, dan menyusul atau mendahului orang lain untuk mencapai kesuksesan usaha.     
Memalingkan pandangannya kepada masyarakat kontemporer, McClelland menemukan korelasi yang ketat antara n Ach di satu pihak dan Pendapatan Nasional Kotor (GNP), tenaga listrik, atau keduanya secara bersamaan di pihak lain. Motivasi keberhasilan tanpa kekecualian terbukti berhubungan dengan perkembangan ekonomi, baik di dunia dewasa ini maupun dalam sejarah, bahwa n Ach dapat merangsang anak-anak, dan menjadi pengaruh atas pembangunan.    
Akan tetapi, dalam waktu yang akan datang ini, “jangka pendek” menurut para ahli ekonomi, negara-negara miskin agaknya harus puas dengan sumber motivasi keberhasilan apapun yang telah dimiliki oleh penduduknya yang dewasa. McClelland telah merinci beberapa saran yang langsung dapat diturunkan dari kesimpulan-kesipulannya.
Pertama, “kepemipinan negara hendaknya mengembangkan mistik keberhasilan dengan menggunakan setiap sarana yang ada padanya”.
Kedua, McClelland menganjurkan latihan motivasi untuk pengusaha, dan mengemukakan suksesnya berbagai seminar latihan selama sepuluh hari, yang dikembangkan di India untuk keperluan itu.
Ketiga, orang harus mendesak agar diadakan pendidikan tinggi, baik untuk wanita maupun pria.
Motivasi keberhasilan itu bukan konsep yang sederhana, akan tetapi mengandung banyak konsep, dan hubungan yang satu dengan yang lain tidak jelas. Adapun ini dari pemikiran McClelland yaitu: (1). ada semangat untuk berpikir rasional dan bekerja keras diantara pribadi-pribadi untuk membuat sesuatu sempurna, sesuai dengan posisi mereka di dunia seperti yang dikehendaki Tuhan (melanjutkan teori Max Weber, tentang ‘Etika Protestan’), (2). Konsep ‘need for achievement’ adalah suatu ‘semangat baru yang sepurna’ dalam menghadapi pekerjaan, yang kemudian mendorong kebutuhan untuk berprestasi. Dorongan untuk tidak sekedar mendapatkan ibalan material, tetapi mencapai kepuasan batin, apabila telah menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, (3). Kemiskinan dan keterbelakangan di asyarakat Dunia Ketiga atau Negara Berkembang adalah akibat dilingkungan mereka tidak terjangkit virus ‘need for achivement’ (n Ach), (4). Apabila dilingkungan masyarakat terjangkit virus ‘n Ach’ maka dapat diharapkan masyarakat tersebut akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, (5). Virus ‘need for achievement’  beget panting traumata unstuck dulia basins, air harus ditingkatkan nilainya sehingga semakin banyak kelompok masyarakat usia muda yang memiliki dorongan jiwa ‘kewiraswastaan’atau dikenal dengan ‘enterpernership’.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar