Cendikiawan Meminum Teh
Pada jaman dahulu di tiongkok
terdapat seorang cendikiawan yang sangat menguasai segala filsafat kehidupan
serta memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Tetapi karena adanya sesuatu
kesalahan dalam keputusannya yang disebabkan kesombongannya, maka raja
mengutuskannya untuk bertemu dengan seorang Mahabiksu Zen.
Setelah bertemu dengan Mahabiksu
tersebut, yang duduk tanpa mempedulikannya, demikian juga dengan cendikiawan
tersebut yang karena kesombongannya tidak mau memberikan hormat kepada
Mahabiksu tersebut. Maka mereka duduk tanpa sepatahkatapun, malah saling
membuang muka persis seperti orang pacaran yang baru bertengkar hebat.
Setelah sekian lama, Mahabiksu mulai
menuangkan teh kecawan cendikiawan tersebut. Teh terus dituangkan sampai
seluruh cawan itu telah penuh dan air teh meluber keluar. Melihat ini,
cendikiawan tersebut berteriak, "mengapa anda masih menuangkan teh ini terus
padahal telah penuh ?". sang Mahabiksu memberikan jawaban yang ringkas,
"sama seperti fikiran anda yang telah penuh, sangat sulit untuk dapat
diisi lagi!". Cedikiawan yang memang pintar ini langsung mengerti dan
bersujud memanggil guru kepada Mahabiksu tersebut.
Ilmu yang tinggi adalah suatu
anugerah yang amat besar. Selain dengan perjuangan yang berat, ilmu tidak
didapat dengan cara yang sederhana pula. Apalagi dalam kategori seorang filsuf
yang teramat ahli.
Namun, tidak sedikit, kita sering
terjebak dalam idealisme kaku, terkadang kita memandang bahwa pikiran yang kita
dapat saat ini, adalah suatu kebenaran yang sempurna. Sehingga ketika ada
kritikan, sanggahan dan usulan, malah memicu emosional yang anarkis.
Kita perlu sadar, dibalik gunung ada
gunung, dibalik langit ada langit, maka janganlah sesuatu yang dianggap benar
saat ini oleh diri kita, menjadi sesuatu kebenaran mutlak yang menjustifikasi
dalam seluruh hal permasalahan yang lain.
Oleh karena itu, kesombongan
cenderung memaksakan kepada orang lain akan sebuah ide. Dampaknya, orang akan
angkat topi atas seluruh kemampuan kita berfikir, namun kehilangan arti
kebijaksanaan yang telah dipikirkannya,
Aku meyakini, bahwa pencerahan ini
tidak berakhir sampai disini. Masih ada setumpuk makna dalam Lumpur-lumpur
kehidupan. Saat semua hal itu terjadi dalam hidup ini, kita hanya bisa diam
membisu bagai batu yang terus asik berteduh di bayang-bayang pohon cemara, saat
mentari agak menjorok dari pijakannya. Semua buram, segelap lumpur yang mesti
ditelan.
Aku merasa bahwa semua awal gejolak
kehidupan berasal dari pandangan seseorang terhadap sebuah delta kehidupan,
suasananya adalah proyeksi dari egoisitas diri dan rasa ingin diakui. Namun
apalah jadinya seseorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, lantas membuang
jauh pengetahuan yang lain, mestikah ada panghambaan diri terhadap sesuatu yang
memempertahankan karir dari sebuah pandangan tentang dunia?.
Aku teringat dengan kisah kidung
Gibran dalam Cinta Dan Kesunyian, kasidahnya begitu menggelikan rubik-rubik
akal dan emosiku. Saat itu ia bercerita kisah iblis. Alkisah disuatu masa,
hadir seorang pengkhotbah yang handal dan sangat dihormati sekali oleh
masyarakat kampung. Demi kecintaannya pada sang pengkhotbah, mereka bersedia
memberikan apa saja demi cerita-cerita tentang iblis. Sang pengkhotbah
mensyiarkan risalah rasulNya dari satu rumah kerumah lain, dari kampung yang
satu ke kampung yang lain, sehingga tak ada seorang pun yang tidak mengenalnya.
Pada suatu saat, sang pengkhotbah
mengadakan perjalanan ke sebuah kampung. Dalam perjalanan ia bertemu dengan
sesosok orang yang terluka. "Tolonglah aku, jangan kau tinggalkan aku,
tahukah kau, aku adalah bagian dari hidupmu!", desah orang yang terluka
itu membutuhkan pertolongan yang amat sangat. Sang pengkhotbah kaget, ia baru
melihat orang ini, "Siapa kamu, mengapa kau katakan dirimu adalah bagian
dari hidupku?", Tanya sang pengkhotbah dengan memasang rauh wajah yang
penuh dengan amarah. "Tolonglah aku dulu, nanti aku ceritakan siapa diriku",
jawab orang tersebut.
Kontan sang pengkhotbah menolak,
"Kamu pasti anak berandalan yang tak pernah mendengarkan saat aku
mengumandangkan khutbah-khutbah suci firman Tuhan?, siapakah kamu wahai anak
jalang?", bentak sang pengkhotbat nampaknya semakin jengkel.
"Baiklah,baiklah, aku adalah
iblis!, jawabnya.angin mendadak menjadi rebut menghantarkan hawa panas
keseluruh sudu-sudt suasana. Mendengar hal itu sang pengkhotbah dengan spontan
menjauh, kemudian berdoa " Tuhan telah menujukkan kepadaku wajah burukmu,
aku membencimu, terkutuklah kamu selamanya!".
"Dengarkanlah dahulu wahai
orang pintar, lukaku terlalu dalam, selang beberapa jam yang lalu aku telah
bertempur dengan dengan Mikail, kemudian aku kalah dan berpura-pura mati, agar
ia tak lagi mengejarku dengan panah-panah apinya yang tajam", sang iblis
kembali merintih merasakan lukanya yang parah.
"Semoga nama Mikail mendapat
berkah", sang pengkhotbah kembali berdoa. "Apakah engkau sadar bahwa
perkataanmu pada Mikail adalah sesuatu yang dusta, ia tak pernah datang saat engkau
susah. Namun kau melaknatku, padahal engkau berdiri dalam bayanganku, kau
jadikan keberadaanku sebagai alasan dan senjata karirmu, bukankan kau gunakan
masa lalu dan singasanaku untuk memperoleh dinar dan unta dari pengikutmu
sebagai ancaman untuk tidak jatuh ketanganku?, sadarkah kau karena akulah
berdiri mihrab-mihrab suci?, bila aku mati, maka bagaimana nasib karir
hidupmu?, mendekatlah padaku saudaraku!", kata iblis yang kelelahan
menahan sakitnya. Akhirnya sang pengkhotbah menyadari kekeliruannya, ia
kemudian mengulurkan tangannya, yang pada awalnya tidak sudi tangan yang suci
itu pada orang yang terlaknat. Kemudian ia membersikan luka sang iblis dan
berdoa, "Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkan nyawa sang iblis".
Semua telah mematahkan sayap-sayap Salman
dalam pengembaraan, hanya Syaikh Maemunlah, dengan hikmah dan keagungan
Al-kitab yang telah menyulam kembali patahan sayap itu. Salman terus berduka,
ternyata Syaikh Nurudin, bapaknya, mendekap gandrum dan unta setelah
mengumandangkan kasidah-kasidah Al-kitab.
Duhai Mahabiksu, tak puasnya aku
untuk menafsirkan pencerahanmu. Kesombongan telah membawa kebutaan bagi sang
pengkhotbat dan pembaca Al-kitab, bahkan kesombongan akan terjungkal dengan apa
yang disombongkannya. Aku kadang ingin memberontak, bahwa tak ada kata haram
bagi para pengkhotbah untuk dikoreksi.
Duhai Mahabiksu, pecerahanmu telah
membawa aku untuk memaknai kehidupan, dan aku merasakan pencerahan ini akan
menunjukkan pada diriku kehancuran,
kemunafikan akan kemegahan agama. Dan suatu saat nanti, aku adalah pengkhotbah
yang akan memberontak para pecinta gandrum dan unta, hingga aku sampaikan
tafsir kecarut-marutan dunia kita.
Duhai pengkhotbat, alangkah hinanya
dirimu, kau tukarkan ajaran-ajaran Tuhan dengan roti dan unta, kau hapus segala
aktiva akhiratmu dengan kemegahan dunia, dahulu kau bermodal dengkul membacakan
firman Tuhan, kini kau bermegah-megah, apakah rasulmu mengajarkan hal seperti
itu?, ataukakh Tuhanmu?, atau kitab sucimu?.
Tahukah kau diseberang tanah
basahmu, para penguasa tak lagi jera, hukum Tuhan telah kau campakkan di
telapak kaki. Kini, kehinaan ini, telah menciptakan surga para politisi
aportunis berjiwa Fir'aun. Kebijakan hukum pun hanya adil bagi mereka sendiri,
jelata masih saja menjadi tumbal memintal upeti-upeti bagi politisi. Saat ini,
bagi jelata tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa, memang nampak agama
seolah-olah keluh kesah mahluk tertindas, namun itulah kenyataan. Maka jangan
salahkan mereka jika untuk merampas kembali hak kehidupannya, hak kekuasaannya,
demi lapar, demi bertahan di kehidupan.
Agama telah hilang maknanya dalam
kehidupan, bila pengkhotbah masih merajakan penguasa, mendemangkan pengusaha,
agama kini sudah tidak lagi menjadi obat penenang, penyadar kehidupan. Lantas
apa arti sang rasul yang mengajarkan ajaran yang mampu menciptakan keadilan dan
keamanan 14 abad yang lalu?, penyelewengan ulamalah yang telah meruntuhkan
moralitas ajaran dalam kehidupan. Tak adalagi tindakan-tindakan teologis, yang
ada hanya kesenangan dunia. Kini Tuhan, rasul dan agama seolah-olah telah
menjadi mitos intelektual saja, dan kitab suci hanya menjadi fosil kejayaan
saja. Mahabiksu , sungguh kau telah menyadarkan aku akan dekadensi ini.
Tuhan,
Jangan kau bunuh sayap kata-kataku
dengan takdir ketiadaan.
Agar kurangkai mantra dilangit
Pengusir awan kelam.
Tidak hanya jampi di tulang
Atau pun di padang ilalang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar