Rabu, 09 Mei 2012


Cendikiawan Meminum Teh


            Pada jaman dahulu di tiongkok terdapat seorang cendikiawan yang sangat menguasai segala filsafat kehidupan serta memiliki kedudukan tinggi di pemerintahan. Tetapi karena adanya sesuatu kesalahan dalam keputusannya yang disebabkan kesombongannya, maka raja mengutuskannya untuk bertemu dengan seorang Mahabiksu Zen.
            Setelah bertemu dengan Mahabiksu tersebut, yang duduk tanpa mempedulikannya, demikian juga dengan cendikiawan tersebut yang karena kesombongannya tidak mau memberikan hormat kepada Mahabiksu tersebut. Maka mereka duduk tanpa sepatahkatapun, malah saling membuang muka persis seperti orang pacaran yang baru bertengkar hebat.
            Setelah sekian lama, Mahabiksu mulai menuangkan teh kecawan cendikiawan tersebut. Teh terus dituangkan sampai seluruh cawan itu telah penuh dan air teh meluber keluar. Melihat ini, cendikiawan tersebut berteriak, "mengapa anda masih menuangkan teh ini terus padahal telah penuh ?". sang Mahabiksu memberikan jawaban yang ringkas, "sama seperti fikiran anda yang telah penuh, sangat sulit untuk dapat diisi lagi!". Cedikiawan yang memang pintar ini langsung mengerti dan bersujud memanggil guru kepada Mahabiksu tersebut.
            Ilmu yang tinggi adalah suatu anugerah yang amat besar. Selain dengan perjuangan yang berat, ilmu tidak didapat dengan cara yang sederhana pula. Apalagi dalam kategori seorang filsuf yang teramat ahli.
            Namun, tidak sedikit, kita sering terjebak dalam idealisme kaku, terkadang kita memandang bahwa pikiran yang kita dapat saat ini, adalah suatu kebenaran yang sempurna. Sehingga ketika ada kritikan, sanggahan dan usulan, malah memicu emosional yang anarkis.
            Kita perlu sadar, dibalik gunung ada gunung, dibalik langit ada langit, maka janganlah sesuatu yang dianggap benar saat ini oleh diri kita, menjadi sesuatu kebenaran mutlak yang menjustifikasi dalam seluruh hal permasalahan yang lain.
            Oleh karena itu, kesombongan cenderung memaksakan kepada orang lain akan sebuah ide. Dampaknya, orang akan angkat topi atas seluruh kemampuan kita berfikir, namun kehilangan arti kebijaksanaan yang telah dipikirkannya,
            Aku meyakini, bahwa pencerahan ini tidak berakhir sampai disini. Masih ada setumpuk makna dalam Lumpur-lumpur kehidupan. Saat semua hal itu terjadi dalam hidup ini, kita hanya bisa diam membisu bagai batu yang terus asik berteduh di bayang-bayang pohon cemara, saat mentari agak menjorok dari pijakannya. Semua buram, segelap lumpur yang mesti ditelan.
            Aku merasa bahwa semua awal gejolak kehidupan berasal dari pandangan seseorang terhadap sebuah delta kehidupan, suasananya adalah proyeksi dari egoisitas diri dan rasa ingin diakui. Namun apalah jadinya seseorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi, lantas membuang jauh pengetahuan yang lain, mestikah ada panghambaan diri terhadap sesuatu yang memempertahankan karir dari sebuah pandangan tentang dunia?.
            Aku teringat dengan kisah kidung Gibran dalam Cinta Dan Kesunyian, kasidahnya begitu menggelikan rubik-rubik akal dan emosiku. Saat itu ia bercerita kisah iblis. Alkisah disuatu masa, hadir seorang pengkhotbah yang handal dan sangat dihormati sekali oleh masyarakat kampung. Demi kecintaannya pada sang pengkhotbah, mereka bersedia memberikan apa saja demi cerita-cerita tentang iblis. Sang pengkhotbah mensyiarkan risalah rasulNya dari satu rumah kerumah lain, dari kampung yang satu ke kampung yang lain, sehingga tak ada seorang pun yang tidak mengenalnya.
            Pada suatu saat, sang pengkhotbah mengadakan perjalanan ke sebuah kampung. Dalam perjalanan ia bertemu dengan sesosok orang yang terluka. "Tolonglah aku, jangan kau tinggalkan aku, tahukah kau, aku adalah bagian dari hidupmu!", desah orang yang terluka itu membutuhkan pertolongan yang amat sangat. Sang pengkhotbah kaget, ia baru melihat orang ini, "Siapa kamu, mengapa kau katakan dirimu adalah bagian dari hidupku?", Tanya sang pengkhotbah dengan memasang rauh wajah yang penuh dengan amarah. "Tolonglah aku dulu, nanti aku ceritakan siapa diriku", jawab  orang tersebut.
            Kontan sang pengkhotbah menolak, "Kamu pasti anak berandalan yang tak pernah mendengarkan saat aku mengumandangkan khutbah-khutbah suci firman Tuhan?, siapakah kamu wahai anak jalang?", bentak sang pengkhotbat nampaknya semakin jengkel.
            "Baiklah,baiklah, aku adalah iblis!, jawabnya.angin mendadak menjadi rebut menghantarkan hawa panas keseluruh sudu-sudt suasana. Mendengar hal itu sang pengkhotbah dengan spontan menjauh, kemudian berdoa " Tuhan telah menujukkan kepadaku wajah burukmu, aku membencimu, terkutuklah kamu selamanya!".
            "Dengarkanlah dahulu wahai orang pintar, lukaku terlalu dalam, selang beberapa jam yang lalu aku telah bertempur dengan dengan Mikail, kemudian aku kalah dan berpura-pura mati, agar ia tak lagi mengejarku dengan panah-panah apinya yang tajam", sang iblis kembali merintih merasakan lukanya yang parah.
            "Semoga nama Mikail mendapat berkah", sang pengkhotbah kembali berdoa. "Apakah engkau sadar bahwa perkataanmu pada Mikail adalah sesuatu yang dusta, ia tak pernah datang saat engkau susah. Namun kau melaknatku, padahal engkau berdiri dalam bayanganku, kau jadikan keberadaanku sebagai alasan dan senjata karirmu, bukankan kau gunakan masa lalu dan singasanaku untuk memperoleh dinar dan unta dari pengikutmu sebagai ancaman untuk tidak jatuh ketanganku?, sadarkah kau karena akulah berdiri mihrab-mihrab suci?, bila aku mati, maka bagaimana nasib karir hidupmu?, mendekatlah padaku saudaraku!", kata iblis yang kelelahan menahan sakitnya. Akhirnya sang pengkhotbah menyadari kekeliruannya, ia kemudian mengulurkan tangannya, yang pada awalnya tidak sudi tangan yang suci itu pada orang yang terlaknat. Kemudian ia membersikan luka sang iblis dan berdoa, "Mudah-mudahan Tuhan menyelamatkan nyawa sang iblis".
            Semua telah mematahkan sayap-sayap Salman dalam pengembaraan, hanya Syaikh Maemunlah, dengan hikmah dan keagungan Al-kitab yang telah menyulam kembali patahan sayap itu. Salman terus berduka, ternyata Syaikh Nurudin, bapaknya, mendekap gandrum dan unta setelah mengumandangkan kasidah-kasidah Al-kitab.
            Duhai Mahabiksu, tak puasnya aku untuk menafsirkan pencerahanmu. Kesombongan telah membawa kebutaan bagi sang pengkhotbat dan pembaca Al-kitab, bahkan kesombongan akan terjungkal dengan apa yang disombongkannya. Aku kadang ingin memberontak, bahwa tak ada kata haram bagi para pengkhotbah untuk dikoreksi.
            Duhai Mahabiksu, pecerahanmu telah membawa aku untuk memaknai kehidupan, dan aku merasakan pencerahan ini akan menunjukkan pada diriku  kehancuran, kemunafikan akan kemegahan agama. Dan suatu saat nanti, aku adalah pengkhotbah yang akan memberontak para pecinta gandrum dan unta, hingga aku sampaikan tafsir kecarut-marutan dunia kita.
            Duhai pengkhotbat, alangkah hinanya dirimu, kau tukarkan ajaran-ajaran Tuhan dengan roti dan unta, kau hapus segala aktiva akhiratmu dengan kemegahan dunia, dahulu kau bermodal dengkul membacakan firman Tuhan, kini kau bermegah-megah, apakah rasulmu mengajarkan hal seperti itu?, ataukakh Tuhanmu?, atau kitab sucimu?.
            Tahukah kau diseberang tanah basahmu, para penguasa tak lagi jera, hukum Tuhan telah kau campakkan di telapak kaki. Kini, kehinaan ini, telah menciptakan surga para politisi aportunis berjiwa Fir'aun. Kebijakan hukum pun hanya adil bagi mereka sendiri, jelata masih saja menjadi tumbal memintal upeti-upeti bagi politisi. Saat ini, bagi jelata tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa berdoa, memang nampak agama seolah-olah keluh kesah mahluk tertindas, namun itulah kenyataan. Maka jangan salahkan mereka jika untuk merampas kembali hak kehidupannya, hak kekuasaannya, demi lapar, demi bertahan di kehidupan.
            Agama telah hilang maknanya dalam kehidupan, bila pengkhotbah masih merajakan penguasa, mendemangkan pengusaha, agama kini sudah tidak lagi menjadi obat penenang, penyadar kehidupan. Lantas apa arti sang rasul yang mengajarkan ajaran yang mampu menciptakan keadilan dan keamanan 14 abad yang lalu?, penyelewengan ulamalah yang telah meruntuhkan moralitas ajaran dalam kehidupan. Tak adalagi tindakan-tindakan teologis, yang ada hanya kesenangan dunia. Kini Tuhan, rasul dan agama seolah-olah telah menjadi mitos intelektual saja, dan kitab suci hanya menjadi fosil kejayaan saja. Mahabiksu , sungguh kau telah menyadarkan aku akan dekadensi ini.

Tuhan,
Jangan kau bunuh sayap kata-kataku
dengan takdir ketiadaan.
Agar kurangkai mantra dilangit
Pengusir awan kelam.
Tidak hanya jampi di tulang
Atau pun di padang ilalang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar