BAB I
PENDAHULUAN
Islam meandang manusia sebagaai
khalifah Tuhan di atas bumi. Lebih jauh lagi, kualitas kewakilan ini
disempurnakan dengan kualitas kehambaan (‘abd Allah) dan karenanya harus
taat pada-Nya. Manusia diciptakan dari Lumpur hitam atau tanah busuk; tanah
biasa, debu. Setelah Allah mebentuk tubuhnya, Dia menghembuskan nafas dari
Ruh-Nya kedalamnya, lalu jadilah manusia utuh.
Manusia tercipta dari dua hakikat
yang berbeda, yakni tanah (Lumpur) dan ruh. Dalam bahasa manusia, tanah
(Lumpur) adalah symbol kerendahan, kenistaan, dan kekotoran, namun dari Lumpur
itulah manusia tercipta.
Dalam al-Qur’an, manusian
berulang-kali diangkat derajatnya, berulang-kali pula direndahkannya. Mereka
dinobatkan jauh mengunguli alam surga, bumi9 dan bahkan para malaikat; tetapi,
pada asaat yang sama, mereka bisa tak lebih berari dari dibandingkan dengan
setan yang terkutuk dan binatang jahanam sekalipun. Manusia dihargai sebagai
makhluk yang mampu menaklukan alam yang mampu menaklukan alam, namun bisa juga
mereka merosot menjadi “yang paling rendah dari segala yang rendah”. Oleh
karena itu, makluk manusia sendirilah yang harus menetapkan sikap dan harus
menentukan nasib akhir mereka sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Konsep Manusia Menurut Syari’ati
Menurut Syari’ati sebelum proses penciptaan Adam,
Tuhan mula-mula memberitahukan kepada malaikat bahwa Dia ingin menciptakan
wakilnya di atas bumi. Cerita tentang penciptaan manusia (Adam)
mempunyai makna simbolis. Nama Adam adalah simbol manusia. Pemberitahuan Tuhan
kepada malaikat ini dipandang Syari’ati sebagai petanda dan bukti kemuliaan
manusia dalam pandangan Islam.
Firmaan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqaraah: 2
Ketika Tuhaanmu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata:
“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifaah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah …” Tuhan berfirman:
“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Penunjukan manusia sebagai khalifah (wakil)
Tuhan di muka bumi, menandakan bahwa Tuhan telah memilih manusia sebagai
makhluk yang dipercaya untuk memegang amanat. Tuhan telah memberikan misi suci
di dunia. Dalam menggantikan “peran” Tuhan telah meberikan status spiritual
tertinggi bagi manusia.
Tuhan mulai menciptakan manusia sebagai wakil-Nya (khalifah)
dari turab. Kata turab mempunyai arti tanah, debu.[1]
Dalam ayat lain Tuhan menyebutkan bahwa manusia
diciptakan oleh Tuhan dari unsur shal shal ka al-fakhkhar (Lumpur),
sedangkan dalam ayat lain disebutkan hamaimasnun (Lumpur hitaam yang
berbau) (QS. 15: 26,28,33). Di samping itu, ada beberapa referensi qur’anik
yang menunjukan pada sumber (bahan) awal penciptaan (Adam) manusia.[2]
Dalam konteks ini, dapat dilihat bahwa Syari’ati memiliki keyakinan bahwa
mula-mula manusia diciptakan oleh Tuhan secara material. Materi yang digunakan
oleh Tuhan (bahan penciptaan) adalah materi yang “remeh”, yang dilambangkan
dengan tanah.
Bahwa awal
penciptaan Adam adalah sebagaimana diterangkan QS. Al-Hajj, ayat 5, yang
Artinya:
Hai manusia jika kau dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), aka ketahuilah “sesungguhnya telah kami jadikan kamu dari tanah
(turab), kemudian setetes air hina, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian
menjadi segumpal daging yang sempurna dan yang tidak sempurna (cacat), agar kai
dapat menunjukan kekuasaan kami kepadamu”.
Menurut Syari’ati, lumpur (tanah) yang berbau adalah
bentuk dan sifat tanah yang paling rendah, sedangkan air mani (sperma) adalah
bahan penciptaan generasi manusia berikutnya. Dialah yang menyempurnakan segala
sesuatu yang diciptakannya. Dia telah memulai penciptaan manusia dari tanah,
kemudian Ia jadikan turunan (manusia) dari sperma (air mani), kemudian Ia
sempurnakan kejadiannya dan Ia tiupkaan kepadanya sebagian dari Ruh-Nya
(spirit-Nya). Syari’ati memahami bahwa manusia diciptakan dari unsur
tanah (lumpur). Kemudian Tuhan meniupkan sebagian spirit-Nya (ruh-Nya)
pada acuan tanah yang telah terbentuk tersebut, maka jadilah manusia (Adam).
Dalam
setiap makhluk, bagian yang paling suci dan paling sempurna adalah ruh atau
spirit. Walaupun manusia diciptakan dari bahan yang rendah dan nista (tanah,
Lumpur). Nemun di dalam diri manusia terdapat ruh yang ditiupkan langsung dari
Tuhan (Ruh yang abadi).[3]
Ketika berbincang tentang penciptaan manusia
pertama, Al-Quran menunjukan kepada sang
pencipta dengan menggunakan pengganti nama bentuk tunggal:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي
خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Tuhan-mu Berfirman kepada
malaikat “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah" (QS. Shad
(38):71)
Al-Qur’an menguraikan secara rinci proses kejadian Adam, yang oleh
mayoritas Ulama dinamai manusia pertama. Yang disampaikannya dalam konteks ini
hanya:
- Bahan awal manusia adalah tanah
- Kemudian bahan tersebut disepurnakan
- Setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan kepadanya ruh ilahi (QS. Al Hijr (15): 28-29; Shad (38): 71-72).
Dari sini, terdapat sekian banyak cendekiawan dan Ulama Islam, jauh
sebelum Darwin yang melakukan penyelidikan dan analisis sehingga berkesipulan
bahwa manusia diciptakan melalui fase atau evolusi tertentu, dan bahwa ada
tingkat-tingkat tertentu menyangkut ciptaan Allah.
Menurut para ahli sejarah atau mungkin juga para ahli evolusi, manusia
itu diciptakan menurut kejadian tertentu. Al An’am: 02
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ
قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
"Dia-lah yang
menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematian), dan ada
lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit), yang ada pada Sisi-Nya
(yang Dia sendirilah Mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang
bagkit itu).
Sebagai gabungan dari “tanah yang rendah” dan spirit
yang suci, anusia akhirnya menjadi makhluk dua dimensi. Manusia mempunyai dua
arah atau kecenderungan, yaittu, yang satu membawa kedasar yang paling bawah
(kepada stagnasi sedimenter) atau kedasar bawah, hakikatnya yang paling rendah.
Dimensi anusia yang lain, yakni dimensi spiritualisnya (ruhnya) akan
mendorong mansuia naik kepuncak spiritualisnya yang tinggi, yaitu kepada zat
yang Maha Suci (Tuhan).
2. Manusia sebagai Khalifah Tuhan
Sebagai mana telah disebutkan tadi bahwa manusia
adalah sebagai wakil Tuhan di bumi. Amanat ini adalah penghormatan yang
diberikan Tuhan kepada manusia. Bagi Syari’ati, manusia sebagai khalifaah
merupakan gambaran ideal. Manusia ideal adalah manusia teomorfis, yaitu
mansuia yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan, dan dapat mengendalikan sifat
yang rendah dan hina.
Menurut Syari’ati, manusia ideal mempunyai tiga aspek.
Ketiga aspek tersebut adalah kebenaran, kebajikan dan keindahan. Dengan kata
lain, ia memiliki pengetahuaan, etika dan seni. Ketiga aspek ini dapat dicapai
melalui kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas.
Sebenarnya
manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk
mengetahui dirinya, kita (manusia) hanya mampu mengetahui manusia secara utuh.
Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu,
dan inipun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri.
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai suatu makhluk
pilihan Tuhan sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang
semi-samawi dan semi duniawi, yang didalam dirinya ditanamkan sikap mengakui
Tuhan, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam
semesta; serta karunia keunggulan atas alam semesta, langit dan bumi
Manusia tidaklah seata-mata tersentuh oleh
motivasi-motivasi duniawi saja. Dengan kata lain, kebutuhan bendawi bukanlah
satu-satunya stimulus baginya baginya; lebih dari itu, mereka selalu untuk
meraih cita-cita dan aspirasi-aspirasi yang lebih luhur dalam hidup
mereka.
2. Hakikat Manusia
Manusia menjalani hidup dalam lima zaman atau alam,
yaitu (1) alam ruh, (2) alam rahim, (3) alam dunia (4) alam barzakh dan (5)
alam akhirat. Manusia dibekali hidayah akal, kalbu, ilham taqwa, ilham fujur
dan agama Islam dengan bekal ini manusia diberi amanat ibadah dan khalifah
di muka bumi. Dengan amanat ibadah manusia hanya dibenarkan menyembah dan
beribadah kepada penciptanya, yaitu Allah Swt, dan dengan amanat khilafah
manusia bertugas merekayasa kehidupaan, merekayasa alam untuk kepentingan
kemanusiaan dan menegakkan tata hubungan antara makhluk di muka bumi.
Manusia yang menerima Islam dan
memperjuangkannya agar diterima oleh orang lain atas dasar kebebasan dan
tanggung jawab adalah hakikat aktivitas dakwah Islam sepanjang zaman. Prilaku
lahir manusia pada hakikatnya merupakan ekspresi dan aktualisasi dari prilaku
potensi nafs (jiwa) yang dimilikinya, yang memposisikan ke arah posisi
yang baik dan benar dan kearah posisi jelek dan salah. Nafs adalah
pengertian dari diri, diartikan apabila seseorang mengetahui Tuhannya tidak
pernah kekurangan, jika ia mengetahui dirinya melalui pemusnahan nafs
negatif, dia akan mengetahui Tuhannya dalam kehidupan abadi.
Manusia dengan seluruh kelebihaan
yang dimilikinya, sering disebut dengan masterpiece ciptaan Tuhan.
Sejauh apa yang diintrodusir al-Qur’an, manusia berulangkali diangkat
derajatnya, tetapi berulangkali direndahkan. Manusia dinobatkaan jauh
mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang
bersamaan mereka bisa tidak lebih berarti dari setan terkutuk dan binatang
jahanam sekalipun. Sejulah ayat al-Qur’an dengan sangat jelas mebedakan antara
anusia dengan prilaku yang terkutuk.
Pada kenyataannya, manusia terbuat daari unsur-unsur yang berlawanan.
Unsur-unsur yang saling berlawanan inilah yang membuat manusia enjelma sebagai
makhluk yang penuh paradoks. Dalam wujudnya, Allah mencampurkan keburukan dan
kebaikan.
Referen:
Al-Qur’an
Terjemahan, CV. Penerbit Diponegoro
Agus Ahmad
Safei, Memimpin dengan Hati yang Selesai, jejak langkah dan
pemikiran baru dakwah K.H. Syukriadi Sambas, M.Si, Pustaka Setia, Bandung 2003
Choeruddin
Hadhiri, Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an, Gema Insani Press, Jakarta
1995.
Suwito NS,
M.Ag, Transformasi Sosial, Kajian Epistemology Ali Syari’ati tentang
Pemikiran Islam Modern, STAIN Perss, Purwokerto 2004
Dr. M.
Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, PT. Mizan, Bandung 1994
[1]
Penciptaan manusia dari unsure tanah dapat dijmupai dalam sepuluh kali
penyebutan yaitu, QS. 3:39, 6: 2, 15: 28, 33, 32: 7, 35:11, 40: 67, 55: 14,
71:17. lihat juga al-Tirmidzy, sunan al-Tirmidzy (ttp: tp;tt.), hlm74.
[2] Ali
Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, terj. HM. Amin Rais (Jakarta:
Rajawali Press, 1994), hlm 18.
[3] Ali
Syari’ati, on the sociology, hlm 74.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar