Rabu, 09 Mei 2012


BAB I

PENDAHULUAN

            Islam meandang manusia sebagaai khalifah Tuhan di atas bumi. Lebih jauh lagi, kualitas kewakilan ini disempurnakan dengan kualitas kehambaan (‘abd Allah) dan karenanya harus taat pada-Nya. Manusia diciptakan dari Lumpur hitam atau tanah busuk; tanah biasa, debu. Setelah Allah mebentuk tubuhnya, Dia menghembuskan nafas dari Ruh-Nya kedalamnya, lalu jadilah manusia utuh.
            Manusia tercipta dari dua hakikat yang berbeda, yakni tanah (Lumpur) dan ruh. Dalam bahasa manusia, tanah (Lumpur) adalah symbol kerendahan, kenistaan, dan kekotoran, namun dari Lumpur itulah manusia tercipta.
            Dalam al-Qur’an, manusian berulang-kali diangkat derajatnya, berulang-kali pula direndahkannya. Mereka dinobatkan jauh mengunguli alam surga, bumi9 dan bahkan para malaikat; tetapi, pada asaat yang sama, mereka bisa tak lebih berari dari dibandingkan dengan setan yang terkutuk dan binatang jahanam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukan alam yang mampu menaklukan alam, namun bisa juga mereka merosot menjadi “yang paling rendah dari segala yang rendah”. Oleh karena itu, makluk manusia sendirilah yang harus menetapkan sikap dan harus menentukan nasib akhir mereka sendiri.    


BAB II
PEMBAHASAN

1. Konsep Manusia Menurut Syari’ati  
Menurut Syari’ati sebelum proses penciptaan Adam, Tuhan mula-mula memberitahukan kepada malaikat bahwa Dia ingin menciptakan wakilnya di atas bumi. Cerita tentang penciptaan manusia (Adam) mempunyai makna simbolis. Nama Adam adalah simbol manusia. Pemberitahuan Tuhan kepada malaikat ini dipandang Syari’ati sebagai petanda dan bukti kemuliaan manusia dalam pandangan Islam.
Firmaan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqaraah: 2



Ketika Tuhaanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifaah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah …” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Penunjukan manusia sebagai khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi, menandakan bahwa Tuhan telah memilih manusia sebagai makhluk yang dipercaya untuk memegang amanat. Tuhan telah memberikan misi suci di dunia. Dalam menggantikan “peran” Tuhan telah meberikan status spiritual tertinggi bagi manusia. 
Tuhan mulai menciptakan manusia sebagai wakil-Nya (khalifah) dari turab. Kata turab mempunyai arti tanah, debu.[1]

Dalam ayat lain Tuhan menyebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dari unsur shal shal ka al-fakhkhar (Lumpur), sedangkan dalam ayat lain disebutkan hamaimasnun (Lumpur hitaam yang berbau) (QS. 15: 26,28,33). Di samping itu, ada beberapa referensi qur’anik yang menunjukan pada sumber (bahan) awal penciptaan (Adam) manusia.[2]

Dalam konteks ini, dapat dilihat bahwa Syari’ati memiliki keyakinan bahwa mula-mula manusia diciptakan oleh Tuhan secara material. Materi yang digunakan oleh Tuhan (bahan penciptaan) adalah materi yang “remeh”, yang dilambangkan dengan tanah.
 Bahwa awal penciptaan Adam adalah sebagaimana diterangkan QS. Al-Hajj, ayat 5, yang Artinya: 

Hai manusia jika kau dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), aka ketahuilahsesungguhnya telah kami jadikan kamu dari tanah (turab), kemudian setetes air hina, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging yang sempurna dan yang tidak sempurna (cacat), agar kai dapat menunjukan kekuasaan kami kepadamu”.

Menurut Syari’ati, lumpur (tanah) yang berbau adalah bentuk dan sifat tanah yang paling rendah, sedangkan air mani (sperma) adalah bahan penciptaan generasi manusia berikutnya. Dialah yang menyempurnakan segala sesuatu yang diciptakannya. Dia telah memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Ia jadikan turunan (manusia) dari sperma (air mani), kemudian Ia sempurnakan kejadiannya dan Ia tiupkaan kepadanya sebagian dari Ruh-Nya (spirit-Nya). Syari’ati memahami bahwa manusia diciptakan dari unsur tanah (lumpur). Kemudian Tuhan meniupkan sebagian spirit-Nya (ruh-Nya) pada acuan tanah yang telah terbentuk tersebut, maka jadilah manusia (Adam).
Dalam setiap makhluk, bagian yang paling suci dan paling sempurna adalah ruh atau spirit. Walaupun manusia diciptakan dari bahan yang rendah dan nista (tanah, Lumpur). Nemun di dalam diri manusia terdapat ruh yang ditiupkan langsung dari Tuhan (Ruh yang abadi).[3]
Ketika berbincang tentang penciptaan manusia pertama, Al-Quran  menunjukan kepada sang pencipta dengan menggunakan pengganti nama bentuk tunggal:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Tuhan-mu Berfirman kepada malaikat “Sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah" (QS. Shad (38):71)
Al-Qur’an menguraikan secara rinci proses kejadian Adam, yang oleh mayoritas Ulama dinamai manusia pertama. Yang disampaikannya dalam konteks ini hanya:
  1. Bahan awal manusia adalah tanah
  2. Kemudian bahan tersebut disepurnakan
  3. Setelah proses penyempurnaannya selesai, ditiupkan kepadanya ruh ilahi (QS. Al Hijr (15): 28-29; Shad (38): 71-72).
Dari sini, terdapat sekian banyak cendekiawan dan Ulama Islam, jauh sebelum Darwin yang melakukan penyelidikan dan analisis sehingga berkesipulan bahwa manusia diciptakan melalui fase atau evolusi tertentu, dan bahwa ada tingkat-tingkat tertentu menyangkut ciptaan Allah.      
Menurut para ahli sejarah atau mungkin juga para ahli evolusi, manusia itu diciptakan menurut kejadian tertentu. Al An’am: 02
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ
"Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematian), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit), yang ada pada Sisi-Nya (yang Dia sendirilah Mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang bagkit itu).
Sebagai gabungan dari “tanah yang rendah” dan spirit yang suci, anusia akhirnya menjadi makhluk dua dimensi. Manusia mempunyai dua arah atau kecenderungan, yaittu, yang satu membawa kedasar yang paling bawah (kepada stagnasi sedimenter) atau kedasar bawah, hakikatnya yang paling rendah. Dimensi anusia yang lain, yakni dimensi spiritualisnya (ruhnya) akan mendorong mansuia naik kepuncak spiritualisnya yang tinggi, yaitu kepada zat yang Maha Suci (Tuhan).   
2. Manusia sebagai Khalifah Tuhan
Sebagai mana telah disebutkan tadi bahwa manusia adalah sebagai wakil Tuhan di bumi. Amanat ini adalah penghormatan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Bagi Syari’ati, manusia sebagai khalifaah merupakan gambaran ideal. Manusia ideal adalah manusia teomorfis, yaitu mansuia yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan, dan dapat mengendalikan sifat yang rendah dan hina.
Menurut Syari’ati, manusia ideal mempunyai tiga aspek. Ketiga aspek tersebut adalah kebenaran, kebajikan dan keindahan. Dengan kata lain, ia memiliki pengetahuaan, etika dan seni. Ketiga aspek ini dapat dicapai melalui kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas. 
Sebenarnya manusia telah mencurahkan perhatian dan usaha yang sangat besar untuk mengetahui dirinya, kita (manusia) hanya mampu mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian-bagian tertentu, dan inipun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri.
Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai suatu makhluk pilihan Tuhan sebagai khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi-samawi dan semi duniawi, yang didalam dirinya ditanamkan sikap mengakui Tuhan, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta; serta karunia keunggulan atas alam semesta, langit dan bumi
Manusia tidaklah seata-mata tersentuh oleh motivasi-motivasi duniawi saja. Dengan kata lain, kebutuhan bendawi bukanlah satu-satunya stimulus baginya baginya; lebih dari itu, mereka selalu untuk meraih cita-cita dan aspirasi-aspirasi yang lebih luhur dalam hidup mereka.   

2. Hakikat Manusia
Manusia menjalani hidup dalam lima zaman atau alam, yaitu (1) alam ruh, (2) alam rahim, (3) alam dunia (4) alam barzakh dan (5) alam akhirat. Manusia dibekali hidayah akal, kalbu, ilham taqwa, ilham fujur dan agama Islam dengan bekal ini manusia diberi amanat ibadah dan khalifah di muka bumi. Dengan amanat ibadah manusia hanya dibenarkan menyembah dan beribadah kepada penciptanya, yaitu Allah Swt, dan dengan amanat khilafah manusia bertugas merekayasa kehidupaan, merekayasa alam untuk kepentingan kemanusiaan dan menegakkan tata hubungan antara makhluk di muka bumi.
            Manusia yang menerima Islam dan memperjuangkannya agar diterima oleh orang lain atas dasar kebebasan dan tanggung jawab adalah hakikat aktivitas dakwah Islam sepanjang zaman. Prilaku lahir manusia pada hakikatnya merupakan ekspresi dan aktualisasi dari prilaku potensi nafs (jiwa) yang dimilikinya, yang memposisikan ke arah posisi yang baik dan benar dan kearah posisi jelek dan salah. Nafs adalah pengertian dari diri, diartikan apabila seseorang mengetahui Tuhannya tidak pernah kekurangan, jika ia mengetahui dirinya melalui pemusnahan nafs negatif, dia akan mengetahui Tuhannya dalam kehidupan abadi.
            Manusia dengan seluruh kelebihaan yang dimilikinya, sering disebut dengan masterpiece ciptaan Tuhan. Sejauh apa yang diintrodusir al-Qur’an, manusia berulangkali diangkat derajatnya, tetapi berulangkali direndahkan. Manusia dinobatkaan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang bersamaan mereka bisa tidak lebih berarti dari setan terkutuk dan binatang jahanam sekalipun. Sejulah ayat al-Qur’an dengan sangat jelas mebedakan antara anusia dengan prilaku yang terkutuk.
Pada kenyataannya, manusia terbuat daari unsur-unsur yang berlawanan. Unsur-unsur yang saling berlawanan inilah yang membuat manusia enjelma sebagai makhluk yang penuh paradoks. Dalam wujudnya, Allah mencampurkan keburukan dan kebaikan.            
 

Referen:


Al-Qur’an Terjemahan, CV. Penerbit Diponegoro
Agus Ahmad Safei, Memimpin dengan Hati yang Selesai, jejak langkah dan pemikiran baru dakwah K.H. Syukriadi Sambas, M.Si, Pustaka Setia, Bandung 2003
Choeruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan Al-Qur’an, Gema Insani Press, Jakarta 1995.
Suwito NS, M.Ag, Transformasi Sosial, Kajian Epistemology Ali Syari’ati tentang Pemikiran Islam Modern, STAIN Perss, Purwokerto 2004
Dr. M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, PT. Mizan, Bandung 1994


  



[1] Penciptaan manusia dari unsure tanah dapat dijmupai dalam sepuluh kali penyebutan yaitu, QS. 3:39, 6: 2, 15: 28, 33, 32: 7, 35:11, 40: 67, 55: 14, 71:17. lihat juga al-Tirmidzy, sunan al-Tirmidzy (ttp: tp;tt.), hlm74.
[2] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, terj. HM. Amin Rais (Jakarta: Rajawali Press, 1994), hlm 18. 
[3] Ali Syari’ati, on the sociology, hlm 74.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar