PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
Al-qur’an dan hadist mempunyai peranan
penting dalam kehidupan sehari-hari bagi umat islam. Walaupun terdapat
perbedaan dari segi penafsiran dan aplikasi, namun setidaknya para ulama telah
sepakat untuk menjadikan keduanya sebagai sumber hukum islam dalam mengambil
dan menjadikan pedoman utama dari keduanya. Dalam struktur hirarki sumber hukum
islam, hadist menempati urutan kedua setelah al-qur’an dalam menjadikan rujukan
hukum, Karen disamping sebagai ajaran islam yang secara langsung terkait dengan
keharusan mentaati Rosulullah SAW, juga fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi
ungkapan-ungkapan al-qur’an yang masih bersifat mujmal, muthlaq dan sebagainya.
Sekarang ini banyak sekali masyarakat yang memakai hadits yang tidak
mengetahui asal usul dan persyaratan riwayat hadits yang boleh dijadikan
rujukan dalam kehidupan. Mereka yang hanya mengetahui sebuah hadits tanpa
mengetahui apakah perawinya dikategorikan sebagai perawi yang memenuhi
persyaratan sebagai perawi hadits. Kebanyakan orang yang sudah mengenali
hadist, akan tetapi belum mengetahui darimana hadist tersebut dan apakah hadist
tersebut, untuk mengetahui semua itu kita perlu mempelajari takhrij
al-hadist, yaitu suatu metode untuk mengetahui suatu hadist yang ingin ditakhrij,
oleh karena itu dalam tulisan ini sedikitnya akan memberikan gambaran tentang
takhrij al-hadist. Sebelum kemetode pentakhrijan tidak ada salahnya jika kita
mengetahui pengertian dari takhrij dan jarh wa ta’dil itu sendiri.
a. Pengertian Takhrij Al-hadist
Takhrij
menurut bahasa mempunyai banyak arti, namun kata yang mendekati adalah berasal
dari kata “kharaja” yang mempunyai arti Nampak dari tempatnya atau
keadaannya, terpisah dah kelihatan. Demikian juga lafad “al-ikhraj” yang
mempunyai arti menampakkan dan memperlihatkannya. Dan “al-makhraj” yang
mempunyai arti tempat keluar. Sedangkan almakhraj al-hadist wa kharijuhu yang
berarti menampakkan dan memperlihatkan hadist kepada orang dengan menjelaskan
tempat keluarnya.[1]
Takhrij
menurut istilah menunjukan tempat hadist pada sumber aslinya yang mengeluarkan
hadist tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika
diperlukannya.[2]
b. Study Sanad Hadist
Yang
dimaksud dengan study sanad hadist adalah mempelajari mata rantai para perawi
yang berada pada sanad hadist, yaitu dengan menitik beratkan dengan mengetahui
biografi perawi tersebut, kuat lemahnya hadist tersebut, serta mengetahui
apakah mata rantai sanad seorang perawi dengan perawi yang lainnya itu
bersambungan atau terputus, dengan mengetahui tahun lahir dan tahun wafatnya
seorang perawi tersebut dan mengetahui tantang berbagai hal yang bersangkutan
dengan jarh wa ta’dil dari perawi hadist tersebut. Ilmu tentang takhrij
hadist ini merupakan muara dari ilmu-ilmu hadist yang dapat memberikan
justifikasi tentang kesahihan atau kedla’ifan suatu hadist, sehingga hadist
tersebut bisa diamalkan atau ditolak.[3]
c. Pengertian Jarh Wa Ta’dil[4]
Ilmu al-jarh menurut bahasa adalah melukai, cela atau cacat. Sedangkan
menurut istilah ilmu hadist adalah ilmu pengetahuan yang mengetahui kecacatan para perawi seprti
pada keadilannya dan kedhabitannya. Para ahli hadist mengartikan al-jarh dengan
kecacatan perawi hadist disebabkan oleh suatu yang dapat merusak keadilan atau
kedhabitan perawi. Sedangkan At-ta’dil menurut bahasa adalah membetulkan,
meluruskan dan membersihkan. Sedangkan menurut istilah adalah pembersihan atau
pensucian perawi dan ketetapan bahwa ia adil atau dhabitnya.
Jadi kesimpulannya ilmu jarh wa ta’dil adalah ilmu yang membahas tentang
hal ihwal para perawi untuk mengkritik keaibannya dan memuji keadilannya dengan
norma-norma tertentu, dengan demikian dapat disimpulkan siapa diantara para
perawi tersebut dapat diterima atau ditolak hadist yang diriwayatkannya.[5]
Demikian lah sedikit pemaparan tentang penjelasan takhrij al-hadist dan
jarh wa ta’dil yang mungkin sangat erat hubungannya dengan penelitian hadist.
B. PENELITIAN SANAD
1. Melalui kitab Al-mu’jam al-mufahras li alfadz
al-nabawy (manual)
Dalama
kitab mujam ditemukan penggalan hadist yang sama dengan kata kunci عرى dan ditemukan lafad ....أرخص فى بيع العريّة رخصّ, yang terdapat dalam kitab sohih bukhari kitab buyu’ dengan
nomor hadist 82, sohih muslim dalam kitab buyu’ dengan nomor hadist 59, 62 dan 66, di kitab
sunan nasai dalam kitab buyu’ dengan nomor hadist 34 dan di kitab ibnu
majah kitab tijaaraat dengan nomor hadist 55.[6]
Melalui kitab maktabah syamilah (digital).
Penelitian melalui kitab maktabah syamilah ada 19 hadist
yang menjelaskan tentang hadist diatas, diantaranya :
1). Dalam shohih bukhari terdapat dalam kitab buyu
dengan nomor hadist 2039.
2). Dalam shohih muslim terdapat dalam kitab buyu dengan nomor hadist 2840.
3). Dalam sunan tirmidzi terdapat dalam
kitab buyu ‘an Rasulillah dengan nomor hadist 1221, 1223.
4). Dalam sunan an-nasai dalam kitab buyu
dengan nomor hadist 4454, 4458,
4459, 4460, 4461, 4462.
5). Dalam sunan abu daud dalam kitab buyu
dengan nomor hadist 2918.
6). Dalam sunan ibnu majah dalam kitab tijarat dengan nomor hadist 2259, 2260.
7). Dalam sunan ahmad dalam kitab musnad
lianshori dengan nomor hadist 20595, 20628, 20640, 20669, 20675.
8). Dalam sunan ad-darimi dalam kitab buyu dengan
nomor hadist 2445.
2. Letak hadist berdasarkan informasi kitab kamus
hadist
1).
Dalam shohih mslim kitab buyu dengan nomor hadist 82.
حدثنا عبد الله
بن مسلمة: حدثنا مالك، عن نافع، عن ابن عمر، عن زيد بن ثابت رضي الله عنهم:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أرخص لصاحب العرية أن يبيعها بخرصها.
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أرخص لصاحب العرية أن يبيعها بخرصها.
2). Dalam shohih muslim kitab buyu dengan nomor hadist
59, 62, 66.
59).
وحدثني محمد بن رافع. حدثنا حجين بن المثنى. حدثنا الليث عن عقيل، عن ابن شهاب، عن
سعيد بن المسيب
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع المزابنة والمحاقلة. والمزانبة أن يباع ثمر النخل بالتمر. والمحاقلة أن يباع الزرع بالقمح. واستكراء الأرض بالقمح. قال: وأخبرني سالم بن عبدالله عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: لا تبتاعوا الثمر حتى يبدو صلاحه. ولا تبتاعوا الثمر بالتمر.
وقال سالم: أخبرني عبدالله عن زيد بن ثابت، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أنه رخص بعد ذلك في بيع العرية بالرطب أو بالتمر. ولم يرخص في غير ذلك.
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع المزابنة والمحاقلة. والمزانبة أن يباع ثمر النخل بالتمر. والمحاقلة أن يباع الزرع بالقمح. واستكراء الأرض بالقمح. قال: وأخبرني سالم بن عبدالله عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: لا تبتاعوا الثمر حتى يبدو صلاحه. ولا تبتاعوا الثمر بالتمر.
وقال سالم: أخبرني عبدالله عن زيد بن ثابت، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم؛ أنه رخص بعد ذلك في بيع العرية بالرطب أو بالتمر. ولم يرخص في غير ذلك.
62). وحدثناه يحيى بن يحيى. أخبرنا هشيم عن يحيى بن سعيد، بهذا الإسناد.
غير أنه قال: والعرية النخلة تجعل للقوم فيبيعونها بخرصها ثمرا.
66). وحدثنا أبو
الربيع وأبو كامل. قالا: حدثنا حماد. ح وحدثنيه علي بن حجر. حدثنا إسماعيل. كلاهما
عن أيوب، عن نافع، بهذا الإسناد؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رخص في بيع
العرايا بخرصها.
3). Dalam sunan nasai
pada kitab buyu dengan nomor hadist 34.
34). أخبرنا عمرو بن
علي قال: حدثنا يحيى عن عبيد الله قال: حدثني نافع عن ابن عمر، أن رسول الله صلى
الله عليه وسلم قال: البيعان بالخيار ما لم يفترقا أو يكون خيارا.
4). Dalam sunan ibnu majah pada kitab tijarat dengan nomor hadist 55.
55). حدثنا هشام بن
عمار ومحمد بن الصباح. قالا: حدثنا سفيان بن عيينة، عن الزهري عن سالم، عن أبيه.
حدثني زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم رخص في العرايا. حدثنا محمد بن
رمح. أنبأنا الليث بن سعد، عن يحيى بن سعيد، عن نافع، عن عبد الله بن عمر؛ أنه
قال: حدثني زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أرخص في بيع العرية
بخرصها تمرا. قال يحيى: العرية أن يشتري الرجل ثمر النخلات بطعام أهله رطبا،
بخرصها تمرا.
3. menulis hadist lengkap
(1284) حدثني يحيى عن مالك عن نافع عن عبد الله بن عمر عن زيد بن
ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أرخص لصاحب العرية أن يبيعها بخرصها.
“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberi keringanan
bagi pemilik ariyah (pemilik pohon kurma) untuk menjual kurma basah dengan
memperkirakan (takarannya)”.
Hadist ini di ambil dari kitab al-muatho imam malik bin anas yang
terdapat pada kitab al-buyu’ pada bab ما جاء في بيع العرية dengan
nomor hadist 1284 pada kitab muatho.
Matan hadist.
هكذا روى هذا
الحديث في الموطإ جماعة الرواة فيما علمت لم يزيدوا على أن يبيعها بخرصها
.
ورواه الليث بن سعد ، عن يحيى بن سعيد ، عن نافع ، عن ابن عمر قال : حدثني زيد بن ثابت أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أرخص في بيع العرايا بخرصها تمرا ، وعند يحيى بن سعيد في العرايا أيضا حديثه ، عن بشير بن يسار ، عن سهل بن أبي حثمة ، وقد ذكرناه في باب داود بن الحصين من هذا الكتاب .
ورواه الليث بن سعد ، عن يحيى بن سعيد ، عن نافع ، عن ابن عمر قال : حدثني زيد بن ثابت أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم - أرخص في بيع العرايا بخرصها تمرا ، وعند يحيى بن سعيد في العرايا أيضا حديثه ، عن بشير بن يسار ، عن سهل بن أبي حثمة ، وقد ذكرناه في باب داود بن الحصين من هذا الكتاب .
“Jadi, meriwayatkan hadits
ini dalam al-Muwatta
kelompok perawi Sejauh
yang saya tahu tidak meningkat terhadap lafad أن يبيعها بخرصها, dan seperti hadist yang telah diriwayatkan oleh laist bin saad, dari yahya bin said, dari
nafi’, dari ibnu umar berkata : zaid bin tsabit telah menceritakan kepadaku sesungguhnya
Rasulullah SAW memberikan keringanan kepada pemilik ariyah dengan memperkirakan
takarannya dengan kurma keringn, dan menurut yahya bin said dalam hadistnya
tentang ariyah juga, dari basyir bin yasar dari sahal bin abi hasimah, dan
telah diungkapkannya dalam bab daud bin hashin dalam kitab ini[7].
4. berikut daftar nama-nama para perawi dalam hadist dibawah ini.[8]
موطأ مالك باب البيوع
(1284) حدثني يحيى عن مالك عن نافع عن عبد الله بن عمر عن زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أرخص لصاحب العرية أن يبيعها بخرصها.
NO
|
NAMA PERAWI
|
TL-TW/ UMUR
|
GURU
|
MURID
|
JARH WA TA’DI
|
1
|
Zaid bin tsabit
|
TW 45 H
|
Nabi Muhammad SAW.
|
Ada 13 yaitu diantaranya :
- Nafi’ maula ibnu umar.
- Yazid maula ‘uqail.
- abdullah bin umar bin khotob bin nufail.
|
-Mina sohabah warotibatihim ismi murotib
al-‘adalah wa tautsiq.
|
2
|
Abdillah bin umar bin khotob bin nufail
|
TW 73 H
|
Ada 5
yaitu diantaranya :
- Umar bin khotob
- Zaid bin tsabit bin dohak
- Bilal bin robah
|
Ada 31 yaitu diantaranya :
-
Saad bin nufail maula umar
- Jandab maula abdillah bin ‘ayas.
- Yahnis bin abi musa
- nafi’ maula ibnu umar.
|
- Mina sohabah warotibatihim ismi murotib
al-‘adalah wa tautsiq.
|
3
|
Nafi maula ibnu umar
|
TW 117 H
|
Keseluruhannya ada 16 namun diantaranya :
- Abdullah bin abdillah bin umar bin khotob
- Al-qosim bin muhamad bin abi bakr
ashidiq.
- Abdurrohman bin sohr
|
Ada 2 yaitu :
-Abu bakr bin nafi’
-Malik bin anas abu abdillah.
|
1.Yahya bin muin “ tsiqoh ”
2.alajli “ tsiqoh”
3. an-nasai “tsiqoh
4. ibnu khorosy “ tsiqoh ”
5. ahmad bin solih al-mishri “ hafidz
tsabit
6.alkholal “ imam mutafaqun alaih shohih riwayah”.
|
4
|
Malik bin anas bin malik
|
TL 89
TW 179
USIA 90 tahun
|
Tidak dicantumkan dalam keterangannya.
|
Ada 1 yaitu :
Uqail bin syabib
|
1.ibnu hajar al asqolani “ sohabi “
2.addahabi “ sohabi “
3.al-zayyi “ lahu sohabah “
4.’uqail bin syabib “ kanat lahu
sohabah “.
|
5
|
Yahya bin yahya bin bakr bin abdurahman
|
TW 226
TL 142
USIA 89 tahun.
|
Keseluruhan berjumlahkan 122 namun
diantaranya :
1.abu bakar bin nafi’
2.abu bakar bin syuaib binjahab
3.azhar bin sa’id.
4.harist bin ubaid.
|
Murid keseluruhannya ada 105 diantaranya
:
1.abu sa’id.
2.ahmad bin Ibrahim bin malik.
3.ahmad bin mubarok
4.ahmad bin Husain bin ali bin abdillah
bin musa
|
1.abu zar’ah arrozi “ tsiqah “
2.abu hatim bin haban albasathi “ kana
min sadati ahli zamanihi ilman wa dinan wa fadlan wa nuskan wa itqonan “
3.ahmad bin hambal “ tsiqoh wa ziadah
wa asna alaihi khoiroan “
4.ahmad bin sayar arruzi “ tsiqoh fil
hadist “
5.ahmad bin syuaib annasai “ tsiqoh
tsabit, wamarotan al tsiotu al ma’mun”
6.ishaq bin rohwiyah “ imam li ahli
dunya wa marotan hua min autsiq min ahadasikum al yauma anhu “
7.ibnu hajar al atsolani “ tsiqoh
tsabit imam “
8.addaruutni “ imam”.
9.addahabi “ ahadu al ‘alamu tsabit
fiqh sohibul hadist wa laisa bil maksiri jiddan “
10.al-abas bin mus’ab almaruzi “ tsioh
yarji’u ila zuhdin wa shilah “.
11.qutaibah bin sa’id “ rojulun sholih
imam min aimah almuslimin “
12. Muhammad bin abdul wahab al-fara “
imam wa qudwah wa nuron wudluan lil islam “.
13.muhamad bin yahya addahly “ hua
amanul muhadistin fi shuduq, wa kana tsabitan “.
|
6
|
Malik bin anas bin malik bin abi amir bin
amru bin al-harist al-asbahi
|
TW 93 H
|
Ada 5, diantaranya :
1.abdurrahman bin sokr.
2.abdullah bin nafi’ bin umya
3.malik bin amru bin harist
4.muhammad bin tsabit bin syarhabil bin
abi ‘aziz.
5.muhamad bin syarhabil.
|
Ada 6 orang diantaranya :
1.abdullah bin jabir bin hamron
2.abdu robh bin sa’id bin qois bin amru
bin sahl bin tsa’labah.
3.qitadah bin daamah bin qotadah bin aziz
bin amru bin robiah.
4.malik bin anas bin malik bin abi amr
bin amru.
5.muhamad bin muslim bin ubaidillah bin
Abdullah bin syihab bin Abdullah bin harist bin zuhroh bin kilab.
6.nafi’ bin malik bin amru bin harist.
|
1.mushonifuu al ihtifal bima’rifati
ariwayah al-tsiqoh
|
6. Meneliti
keadilan perawi
§ Zaid bin tsabit “ tsiqoh “.
§ Abdillah bin umar bin khotob bin nufail “ tsiqoh “.
§ Nafi maula ibnu umar “ tsiqoh “.
§ Malik bin anas bin malik “ tsiqoh “.
§ Yahya bin yahya bin bakr bin abdurahman “
tsiqoh fil hadist “
§ Malik bin anas bin malik bin abi amir bin
amru bin al-harist al-asbahi “ tsiqoh al-riwayat “.
7.
Kesimpulan
Pada hadist di atas terjadi terputusnya sanad dari yahya bin yahya
ke nafi’, disana juga terdapat terputusnya guru dari seorang mufasir yaitu
malik, dalam jarh wa ta’dil yang tidak diketahui, tapi kebanyakan perawi hadist
ini dari kalangan sahabat nabi, yang banyak ulama berpendapat bahwa perawi
tersebut dibilang tsiqoh dan mempunyai kepercayaan dalam periwatan
hadist, akan tapi di sisi lain perawi
hadist ini mengalami keteputusan sanad jadi kesimpulan hadis ini di sebut
hadist ahad (hadits yang diriwayatkan oleh seorang atau lebih tetapi
tidak mencapai tingkat mutawatir. Pembagian hadits ahad).
C. PENELITIAN MATAN
1. Hubungan hadist dengan ayat al-qur’an
Dalam surat al-maidah ayat 2
وَتَعَاوَنُوا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2).....
“...dan tolong-menolonglah
kamu untuk berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong-menolong untuk
berbuat dosa dan permusuhan.”
2. Membandingkan dengan hadist lain.
دثنا
محمد بن رمح بن المهاجر حدثنا الليث عن يحيى بن سعيد عن نافع
عن عبد الله بن عمر حدثني زيد بن ثابت أن رسول الله صلى الله
عليه وسلم رخص
في بيع العرية بخرصها تمرا قال يحيى العرية أن يشتري الرجل ثمر النخلات لطعام أهله
رطبا بخرصها تمرا .(رواه مسلم)
“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam memberi keringanan bagi pemilik ariyah (pemilik pohon kurma) untuk
menjual kurma basah dengan memperkirakan (takarannya) dengan tamr (kurma kering)[9].
3.
Membandingkan dengan fakta sejarah.
Jika
dilihat dari segi definisi ‘Ariyah yaitu memberikan buah kurma tanpa pohonnya.
Di musim kemarau, bangsa Arab (biasanya), orang yang memiliki pohon kurma
bersedekah kepada orang yang tidak memiliki buahnya sebagaimana orang yang
memiliki kambing atau unta bersedekah dengan manihah (yaitu) memberikan susu
tanpa memberikan hewannya. Dan telah diperselisihkan tentang apakah yang
dimaksud dengannya secara syara’. Imam Malik berkata, “'Ariyah adalah seseorang
memberikan pohon kurma kepada orang lain, kemudian ia merasa terganggu dengan
masuknya ia (ke kebunnya), maka ia diberi rukhsah untuk membelinya
darinya dengan tamr.” Yazid berkata dari Sufyan bin Husain, “'Ariyah adalah
pohon kurma yang dihibahkan kepada orang-orang miskin dan mereka tidak sanggup
untuk menunggunya, maka diberikan rukhsah bagi mereka untuk menjualnya dengan
apa yang mereka kehendaki dari tamr[10].
Suatu
hari rosul ditanya tentang menjual ruthab dengan tamr, maka beliau menjawab,
‘Bukankah ruthab akan menyusut apabila mengering ? Mereka menjawab, ‘Ya.’ Maka
beliau melarangnya[11].
4.
Membandingkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, rasio.
Bangsa
Indonesia melaksanakan pembangunan nasional yang bertujuan untuk mewujudkan
masyarakat adil dan makmur, secara merata baik materiil maupun spiritual,
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang merdeka, bersatu dan berkedaulatan rakyat dalam suasana
perikehidupan bangsa yang aman, tentram, tertib dan damai. Pemerintah dalam
usahanya untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah memberikan
pinjaman bagi masyarakat yang membutuhkannya, dengan syarat-syarat yang tidak
dapat memberatkan masyarakat dan dengan jaminan ringan kepada masyarakat luas,
khususnya bagi golongan ekonomi menengah ke bawah yang banyak kebutuhan
sehari-hari, sedangkan digolongan ekonomi menengah ke atas dipergunakan untuk
menambah modal usaha[12].
5. Mengambil kesimpulan matan.
Hadits ini di anggap ahad
dikarenakan di dalam hadits ini terdapat syarat yang menghalangi hadist ini tidak shohih
(ahad), tapi jika dilihat dari sisi lain hadist ini memiliki perawi yang di
percaya akan penyampaian hadist (tsiqah tsabit).
Mungkin inilah yang menyebabkan
hadits ini dianggap ahad, walaupun hadits ini
dikaitkan pada perawi
yang dikenal dan langsung
menerima hadits dari pertama yaitu Anas bin Malik.
Dan dari segi matan hadist yang menghampiri ke shahihan, Cuma
disisi lain ada perawi yang syuyukh nya tidak diketahui, yang menjadikan
hambatan bagi orang-orang yang meneliti hadist ini. Bahkan dari segi talamidz
nya juga ada perawi yang tidak termasuk dari murid seorang perawi tersebut.
D.PENDEKATAN
DENGAN METODE KONTEKSTUAL
Yang
dimaksud dengan pendekatan dengan metode kontekstual yaitu memahami hadits
berdasarkan dengan peristiwa-peristiwa situasi ketika hadits itu disampaikan,
dan kepada siapa pula ditujukan.
Yang
saya ketahui tentang asbabul wurudnya hadist diatas yaitu Di musim kemarau,
bangsa Arab (biasanya), orang yang memiliki pohon kurma bersedekah kepada orang
yang tidak memiliki buahnya sebagaimana orang yang memiliki kambing atau unta
bersedekah dengan manihah (yaitu) memberikan susu tanpa memberikan hewannya.
Dan telah diperselisihkan tentang apakah yang dimaksud dengannya secara syara’.
Imam Malik berkata, “'Ariyah adalah seseorang memberikan pohon kurma kepada
orang lain, kemudian ia merasa terganggu dengan masuknya ia (ke kebunnya), maka
ia diberi rukhsah untuk membelinya darinya dengan tamr.” Yazid berkata dari
Sufyan bin Husain, “'Araya adalah pohon kurma yang dihibahkan kepada
orang-orang miskin dan mereka tidak sanggup untuk menunggunya, maka diberikan
rukhsah bagi mereka untuk menjualnya dengan apa yang mereka kehendaki dari tamr[13].
E.
KESIMPULAN
Takhrij
hadits merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui asal
dari
hadits tersebut Takhrij menurut bahasa
mempunyai beberapa makna yang
paling
mendekati di sini adalah berasal dari kata kharaja yang artinya nampak
dari
tempatnya atau keadaannya dan terpisah dan kelihatan pedangkan Takhrij
menurut
istilah adalah menunjukkan tempat hadits pada sumber aslinya yang
mengeluarkan
hadits tersebut dengan sanadnya dan menjelaskan derajatnya ketika
diperlukan.
Terdapat beberapa tujuan dari takhrij hadits yaitu : Mengetahui sumber asli
asal
hadits yang di takhrij dan mengetahui keadaan kualitas hadits yang berkaitan
dengan diterima maupun ditolaknya suatu hadist.
Seperti halnya hadist di ats
yang mengalami keterputusan sanad hadist yang menjadikan
hadist tersebut menjadi hadis ahad (hadits yang diriwayatkan oleh
seorang atau lebih tetapi
tidak mencapai tingkat mutawatir. Pembagian hadits ahad).
F.
DAFTAR PUSTAKA
Santosa,
Budi. KAJIAN ILMU HADIST. Desember 3, 2009.
Ibnu
Hajar al-Asqalaniy, Tahdzib al-Tahdzib, Majlis Da’irat
al-Ma’arif al-Nidhamiyah, India,tt
Syuhudi
ismail, kaedah kesahihan matan hadits (Jakarta: PT Bulan Bintang) hlm.
56
Al-mazzy.
Tadzhib al-kamal fi asma al-rijal hlm. 606
Yusuf, Abu umar
, atamhid lima fi al-muatho minal ma’ani wa al-asanid,juz. 15
Syaikh
Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih Lengkap,
Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar